Agen Judi Online

From our Blog

Showing posts with label berita perfilman. Show all posts
Showing posts with label berita perfilman. Show all posts

Monday, April 25, 2016

Indro Warkop Membawa Brand Warkop Untuk Mengenang Sahabat nya Dono dan Kasino

 Grup Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) masih dianggap sebagai salah satu ikon komedi di Indonesia. Film-film yang mereka bintangi—diproduksi pada era 1980-an sampai awal 1990-an—juga masih ditayangkan ulang di televisi, yang membuat popularitas mereka seolah tak pernah pudar.
Namun, dengan wafatnya Kasino pada tahun 1997 dan Dono di tahun 2001, Warkop kini diemban oleh Indro seorang. Lantaran telah berkarya bersama-sama dalam waktu yang panjang, Indro tak memungkiri bahwa ia kerap merindukan dua rekannya tersebut.
"Saya kalau lagi kangen banget, sampai yang benar-benar keingat, saya pasti kirim doa buat mas Dono dan mas Kasino," ucap Indro kepada Muvila di kediamannya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
"Tetapi, kalau sekarang, itu kemudian justru jadi hiburan buat saya. Terutama kalau saya lihat film Warkop, ketika di bagian ini ada lucu-lucuan di sini, ketika adegan ini ada yang kita nggak bisa tahan ketawa sampai setengah jam. Misalnya kayak gitu," lanjut Indro.
Kepergian Dono dan Kasino tak lantas membuat Indro melepas keterikatannya pada nama Warkop. Indro pun menjelaskan bahwa ia masih membawa nama Warkop bukan karena sekadar nilai sentimental semata, tetapi juga tanggung jawabnya meneruskan semangat dan idealisme yang telah dibangun bersama dua rekannya itu dalam berkarya.
"Ada juga kekangenan yang saya pergunakan jadi energi positif, di mana saya berpikir untuk Warkop, bukan hanya untuk hidup saya. Saya punya keyakinan ketika prestasi kita raih, prestise ada di tangan. Tetapi, kalau dari awal kita udah ngomongin prestise, belum tentu ada prestasi di sana," papar komedian yang juga aktif di klub motor besar ini.
Kata-kata itu pun dibuktkan Indro lewat karya. Di usianya yang mencapai 57 tahun, Indro masih produktif di jalur komedi, khususnya dalam film-film layar lebar dan program-program TV. Indro baru saja tampil di film laga komedi Comic 8: Casino Kings Part 2, yang sejauh ini masih jadi film Indonesia terlaris tahun 2016.
Dalam waktu dekat, Indro akan tampil di film Komedi Gokil 2 serta proyek Warkop Reborn.Ia juga masih menjadi salah satu juri di program kompetisi Stand Up Comedy Indonesia diKompas TV.
Dalam kesempatan yang sama, Indro juga menyampaikan komentarnya terhadap keadaan film nasional dulu dan kini, menjadi aktor yang tidak melawak, kehidupan glamor yang kerap melekat pada selebriti, sampai hal yang membuatnya bertahan sebagai komedian. Saksikan penuturan lengkap Indro dalam video Meet the Artist berikut ini.
Sumber:Muvila

Begini Cara Rangga dan Pemain AADC Nyatakan Cinta

 Setelah dipersatukan dalam film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) pada tahun 2002, kini para pemain AADC kembali memerankan karakter mereka dalam film sekuelnya. Bukan cuma filmnya yang bisa membekas di hati banyak penonton, proses syutingnya juga amat berkesan bagi Nicholas Saputra (Rangga), Sissy Prescillia (Milly), Adinia Wirasti (Karmen) dan Dennis Adishwara (Mamet). Mereka juga punya lagusoundtrack favorit dari film AADC pertama. Dalam video eksklusif berikut, mereka bicara soal cara menyatakan cinta hingga cinta monyet saat SMA. 

Sumber:Muvila

Megah Dan Meriahnya AADC Di Yogyakarta

 Pada Sabtu malam, 23 April kemarin), bertempat di Empire XXI, Yogyakarta, diadakan pemutaran premiere film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Kota Yogyakarta dipilih Miles Films karena ingin menjadikan premiere AADC 2 menjadi sebuahpremiere yang tidak seperti biasanya.
“Seru aja di Jogja. Di Jakarta premiere bisa sebulan 10 kali, jadi nggak berasa seperti perayaan lagi. Kali ini kami ingin merayakan bersama masyarakat Jogja,” jelas Mira Lesmana selaku produser AADC 2 saat jumpa pers pada Jumat, 22 April lalu.
Gelaran red carpet premiere AADC 2 dimulai pukul 18.00 WIB, Selain dihadiri kru dan pemain film AADC 2, acara tersebut dihadiri seniman dari berbagai kalangan. Ada beberapa artis ibu kota yang menyempatkan datang ke acara tersebut, ada kreator-kreator YouTube dan Instagram, sampai fashion designer. Pemutaran AADC 2 dilakukan mulai pukul 21.00 WIB.
Mira Lesmana sepertinya tidak bercanda dengan menyebut premiere ini sebagai sebuah perayaan. Konsep malam premier ini dipersiapkan sejak 1 bulan yang lalu, dan perlu dua hari untuk membangun panggung dan jalur red carpet. Tak heran jika di malam premierebegitu jelas terpancar unsur kemegahan dan kemeriahan, Muvilaz penasaran seperti apa kemegahan dan kemeriahan malam premier AADC 2 di Yogyakarta? Lihat foto-fotonya di bawah ini.
Sumber:Muvila

Friday, April 22, 2016

Vin Diesel Pamerkan Tampilan Baru Fast 8

Setelah menambah aktor-aktor terkenal, seperti Charlize Theron dan Scott Eastwood dalam jajaran pemainnya, kini aktor utama sekaligus produser Fast 8, Vin Diesel, memberikan teaser terbaru mengenai filmnya.
Diesel sendiri memang dikenal sebagai aktor yang kerap membagikan bocoran film melalui akun media sosialnya. Kini, Vin sekali lagi menggunakan fan page resmi miliknya di Facebook untuk merilis poster terbaru Fast 8.
Poster ini menampilkan sosok Dominic Toretto berdiri di samping mobil favoritnya, 1970 Dodge Charger. Walau poster itu tidak membuka plot filmnya, tapi ada satu kalimat yang muncul lagi seperti di teaser poster sebelumnya, yaitu "New Roads Ahead", yang seakan menyiratkan adanya arah cerita yang baru.
Proses pengambilan gambar Fast 8 sendiri akan dimulai beberapa bulan lagi. Tim utama yang dipimpin Dominic Toretto dipastikan akan kembali. Selain itu, karakter yang pertama kali muncul di Fast 7, seperti Mr. Nobody (Kurt Russel) dan Deckard Shaw (Jason Statham), juga akan kembali.
Adapun Francis Gary Gray, yang sukses menyutradarai The Italian Job (2003) danStraight Outta Compton (2015), akan menyutradarai Fast 8 dengan skenario yang ditulis oleh Chris Morgan (Fast 7, Fast& Furious 6, Fast Five, Fast & Furious, dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift).
Fast 8 dijadwalkan rilis pada April 2017. Setelah film ini, Universal Pictures sudah menjadwalkan dua film Fast & Furious berikutnya yang dijadwalkan rilis tahun 2019 dan 2021.
Sumber:Muvila

Shah Rukh Khan Dituntut Berperan Lebih Muda 25 Tahun Dari Usia nya Sekarang

 Penata rias peraih tiga Piala Oscar, Greg Cannom, bersama tim efek visual telah bekerja keras untuk film terbaru Shah Rukh Khan, Fan. Mereka mengubah tampilan wajah aktor berusia 50 tahun itu menjadi seperti seorang yang masih berusia 25 tahun. Namun rupanya, wajah muda tokoh Gaurav yang diperankan Shah Rukh Khan itu mencontek wajah Brad Pitt.
Proses transformasi tersebut diabadikan dalam video berdurasi 15 menit yang diunggah oleh Yash Raj Films, pada Selasa kemarin. Dalam video tersebut, mereka mengombinasikan prosthetics dan tata rias ciptaan Cannom, yang meraih Piala Oscar sebagai Penata Rias Terbaik untuk film The Curious Case of Benjamin Button.
Soal inspirasi untuk membuat wajah muda tokoh Gaurav, Cannom melihat kembali ke dalam studionya yang berada di Los Angeles dan menemukan pipi yang ia ciptakan untuk Brad Pitt dalam The Curious Case of Benjamin Button. Lalu, ia memutuskan untuk menggunakannya sebagai model wajah Gaurav.
Butuh berjam-jam untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sampai-sampai, megabintang Bollywood itu menyebut bahwa proses transformasi yang dialaminya untuk menjadi Gaurav adalah salah satu hal yang paling menyakitkan di dunia.
"Saya tidak suka duduk di kursi selama empat sampai lima jam setiap harinya untuk berubah menjadi Gaurav. Saya berjanji pada diri saya tidak akan marah," kata Shah Rukh Khan.
Pada awalnya, pembuat film Fan memberitahukan bahwa hampir mustahil untuk membuat aktor terlihat jauh lebih muda untuk keseluruhan film. Tapi, mereka tak patah semangat dan terus melakukan penelitian dan pengembangan.
"Ketika kita menghubungi Greg, ia mengambil tantangan itu," ujar sutradara Maneesh Sharma. Lantas, ia langsung mengirim foto Shah Rukh Khan dan ketika masih muda.
Selain tata rias, mereka juga memanfaatkan kecanggihan teknologi efek visual untuk membentuk tubuh, menajamkan rahang dan memberikannya mata yang lebih besar dan bahu yang kecil.
"Ini adalah teknologi yang pertama kalinya digunakan di film Bollywood," kata Maneesh Sharma.
Sumber:Muvila

Daniel Radcliffe Kenang Profesor Severus Snape,Karena Berperan Jahat Dalam Film Harry Potter

Copyright: YAHOO MOVIE
Jika selama ini citra Daniel Radcliffe melekat pada karakter tokoh baik seperti Harry Potter, maka kali ini ia mencoba sesuatu yang baru dalam kariernya, yaitu memerankan tokoh jahat dalam film Now You See Me 2. Berbicara soal tokoh jahat, ia lalu mengenang kembali akting mendiang Alan Rickman sebagai Profesor Severus Snape dalam delapan film Harry Potter.
Kepada Yahoo Movie, ia mengaku benar-benar takut kepadanya saat pertama kali bertemu. "Dia sangat menakutkan pertama kali, ketika kamu bertemu pertama kali di lokasi syuting," kata Radcliffe saat mempromosikan sekuel Now You See Me.
"Saya ingat benar, saya ketakutan karenanya ketika saya masih muda. Dan kemudian baru menyadari ketika berusia 13 atau 14 tahun, bahwa ia tidak menakutkan. Dia hanya memiliki suara yang dalam dan menakutkan. Dia sebenarnya sangat lucu," kenangnya.
Menurut bintang film Trainwreck ini, Rickman sangat membantunya dalam mengasah kemampuan aktingnya. "Dia memiliki saran yang luar biasa baik dan pendengar yang baik. Hanya melihatnya di lokasi syuting dan kefokusannya. Dia sangat luar biasa," jelas Radcliffe yang lanjut memuji Rickman sebagai aktor pemeran tokoh antagonisterbaik dalam kariernya.
"Saya tidak punya harapan bisa bekerja sama dengan villain yang lebih baik darinya selama beberapa tahun," imbuhnya.
Kini, Daniel Radcliffe berkesempatan untuk memainkan tokoh jahat layaknya Voldemort dalam Harry Potter. Bedanya, Radcliffe tak menggunakan ilmu sihir, tapi kejeniusannya di bidang teknologi. Ia akan membuat jebakan untuk The Four Horseman (Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, Dave Franco, Lizzy Caplan).
"Saya pikir orang akan terkejut melihat Daniel Radcliffe menjadi seorang musuh di film ini. Dia memerankannya dengan sangat baik," komentar Jesse Eisenberg di ajang CinemaCon.
Sumber:Muvila

Fantastic Beasts Mungkin Munculkan Tokoh dari Film Harry Potter

 Dalam ajang CinemaCon 2016, dua pemeran film spin-off Harry Potter,Fantastic Beasts and Where to Find Them, Alison Sudol dan Dan Fogler, membagikan detail informasi terbaru mengenai filmnya. Mengutip MTV News, Fogler membocorkan bahwa ada kemungkinan tokoh dari franchise film Harry Potter akan muncul di Fantastic Beasts.
“Kalian mungkin akan mendengar nama-nama tokoh orisinal disebut di film ini, atau mungkin saja akan ada versi muda dari salah satu karakter itu,” ungkap Dan Fogler.
“Apakah itu Dumbledore? Mungkinkan kami akan melihat Dubledore muda?” tanya pembawa acara Josh Horowitz. Mendengar pertanyaan itu, Fogler tidak menjawabnya, dan hanya meresponnya dengan senyuman.
Selain kemungkinan muncul tokoh orisinal dari film Harry Potter, Fogler juga mengonfirmasi salah satu jenis makhluk yang akan muncul dalam filmnya, yakni The Niffler. Inilah hewan kecil seperti possum yang menyukai benda-benda bercahaya.
Film Fantastic Beasts and Where to Find Them sendiri akan mengisahkan petualangan Newt Scamander (Eddie Redmayne), seorang ahli makhluk-makhluk magis dalam perjalanannya ke Amerika Serikat. Kisah Newt ini terjadi 70 tahun sebelum Harry Potter mulai bersekolah di Hogwarts.
Disutradarai oleh David Yates (sutradara empat film Harry Potter), Fantastic Beasts ini juga dibintangi oleh Ezra Miller, Ron Perlman, Colin Ferrel, Katherine Waterston, Samantha Morton, dan Gemma Chan. Fantastic Beasts dijadwalkan rilis bulan November nanti.
Sumber:Muvila

Demi Bertemu Sang Aktor Idola Song Joong Ki,Fans Nya Rela Beli Tiket Belasan Juta

 Ketenaran Song Joong Ki di Asia sejak membintangi serial dramaDescendants of the Sun tak terbantahkan lagi. Seluruh penggemarnya di berbagai negara tiada habis-habisnya mengelu-elukan namanya. Bahkan, mereka rela membayar tiket secara ilegal seharga belasan juta rupiah demi bertemu sang idola di acara jumpa fans di Universitas Kyunghee, Seoul pada 17 April lalu.
Mengutip Soompi, sebanyak 4 ribu tiket yang disediakan panitia telah habis terjual melalui pemesanan di awal. Penggemar yang tidak kebagian tiket pun terpaksa membeli tiket secara ilegal dari calo dengan harga sekitar 900 dolar AS (Rp 12 juta), yang 12 kali lebih mahal dari harga tiket aslinya yang hanya seharga 20 dolar AS (Rp 263.500).
Informasi tentang lelang tiket jumpa fans Song Joong Ki juga tak kalah menarik dalam memasang harganya di internet. Mereka melelangnya dengan kisaran harga 35 dolar sampai 44 dolar AS, dan bahkan ada yang sampai 90 dolar AS (Rp 1,2 juta) sampai 170 dolar AS (Rp 2,2 juta).
"Tiket dengan harga tambahan dalam kisaran puluhan itu sebenarnya tidak buruk, ada beberapa yang sedang dijual untuk satu juta won (sekitar 900 dolar AS) kepada beberapa fans Cina. Karena ada banyak orang yang ingin tiketnya bahkan setelah mereka terjual habis," komentar perwakilan penyelenggara acara.
Tingginya minat penggemar ini merupakan salah satu bukti popularitas Song Joong Ki. Saat ini, ia tengah menikmati kesuksesan Descendants of the Sun itu sembari melangkah ke proyek selanjutnya. Bersama dengan sutradara Roo Seung-Wan (Veteran), ia akan membintangi film Battleship Island yang bakal tayang paruh awal tahun 2017.
Sumber:Muvila

Park Shin Hye Ikut Syuting Serial Drama Baru Entertainer

 Berdasarkan agensinya, SALT Entertainment, Park Shin Hye ikut syuting serial drama baru Entertainer. Namun, kehadiran bintang drama Pinnochio itu bukan sebagai pemain utama. Ia hanya tampil sebagai cameo untuk mendukung serial drama tersebut.
Awalnya, Park Shin Hye datang ke lokasi syuting Entertainer sekadar untuk menyemangati pemain dan tim produksi yang pernah berjasa dalam kariernya. Mengutip Soompi, penulis skenario drama ini adalah Yoo Young Ah. Ia pernah menggarap film laris yang dibintangi Park Shin Hye, Miracle in Cell No.7. Kemudian sutradaranya, Hong Sung Chan merupakan sutradara drama You're Beautiful yang dibintangi Shin Ye bersama Jang Geun Suk.
"Karena ia tahu kru dan banyak aktor drama ini segitu baik, ia datang ke lokasi syuting dengan membawa kopi untuk menyemangati setiap orang di sana. Lalu tiba-tiba sutradara memintanya untuk tampil sekilas dalam adegan," kata pihak agensinya.
Tanpa pikir panjang, Park Shin Hye pun langsung menyetujuinya untuk menunjukkan rasa terima kasih. "Park Shin Hye adalah sesorang yang akan mengingat bantuan yang dia terima dari orang sekitarnya dan berusaha untuk membalas jasanya," lanjutnya.
Entertainer menuturkan perjuangan manager artis Suk Ho (Ji Sung) bersama grup band barunya untuk bangkit dari titik terendah dalam kehidupan mereka. Serial drama ini akan tayang perdana pada 21 April mendatang di ONE Channel. Adapun adegan Park Shin Hye akan muncul di episode ketiga.
Di luar serial drama ini, Park Shin Hye juga akan membintangi serial drama SBS baruDoctors yang akan rilis pada Juni nanti. Ia bakal berperan sebagai seorang dokter cerdas bernama Yoo Hye Jung.
Sumber:Muvila

Film MerMaid

 Film komedi fantasi terbaru garapan Stephen ChowMermaid, saat ini jadi pembicaraan karena berhasil pecahkan rekor film terlaris sepanjang masa di bioskop China. Film produksi China dan Hong Kong ini sukses meraih pendapatan lebih dari 3 miliar yuan atau 500 juta dolar AS di wilayah China saja.
Ini sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi di negeri tersebut, baik oleh film lokal maupun asing. Dirancang sebagai sebuah blockbuster, kesuksesan Mermaid mungkin sudah bisa diprediksi. Namun, bukan berarti hal tersebut menutupi bahwa film ini punya sesuatu yang lebih dari sekadar film hura-hura.

Meski kali ini tak ikut sebagai pemeran, gaya Chow yang dikenal dari film-film yang dibintangi maupun digarapnya sebelum ini—sebut saja Shaolin Soccer (2001) dan Kung Fu Hustle (2004)—masih kental terlihat di Mermaid. Bahkan, dari materi-materi promosinya, sudah jelas bahwa yang ingin dijual di sini adalah humor absurd gila-gilaan khas Chow selama ini. Akan tetapi, saat filmnya disaksikan secara menyeluruh, ternyata bukan hanya itu yang ditawarkan Mermaid.

Mengadaptasi secara bebas dari dongeng The Little Mermaid, cerita film ini berpusat pada seorang putri duyung yang jatuh cinta pada seorang manusia. Plot dasar itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah kisah modern tentang keserakahan pengusaha yang membahayakan makhluk hidup lain demi kepentingan sendiri.
Adalah Liu Xuan (Deng Chao), pengusaha muda yang mencanangkan pembangunan real estat megah di sebuah tempat bernama Teluk Hijau. Ia pun menyetujui metode dari rekannya, Ruo-lan (Zhang Yuqi), untuk memakai alat khusus mengusir makhluk hidup di lautan sekitar teluk tersebut.
Karena rencana itu, seorang putri duyung berwatak polos bernama Shan (Jelly Lin) diberi misi untuk menyamar jadi manusia darat, mendekati Liu Xuan, lalu membunuhnya. Kurang pengalaman, upaya Shan selalu menemui kegagalan. Malahan, ia jadi terlalu dekat dengan Liu Xuan, hingga mereka saling jatuh cinta. Namun, bagaimana jika Liu Xuan tahu identitas Shan sebenarnya, dan bagaimanakah cara Shan membela kaum manusia ikan yang terancam kehilangan habitat karena Liu Xuan?

Cerita Mermaid memang terkesan klise, lagi-lagi berpusat pada sebuah kisah cinta dua dunia, yang ditambahkan berbagai macam humor dan adegan-adegan spektakuler dengan bantuan animasi CGI untuk membuatnya terlihat megah. Kesederhanaan cerita Mermaid sebenarnya bukan kelemahan, karena paling tidak membuat penonton langsung punya pegangan cerita film ini akan ke mana, mengingat film-film komedi seperti ini sering menampilkan adegan-adegan absurd dan tak relevan demi memancing tawa, yang berisiko melebar ke mana-mana. Untungnya, plot utama film ini dirangkai kuat dari awal hingga akhir, sehingga sekalipun film ini penuh tawa, manisnya kisah cinta Liu Xuan dan Shan masih terus terjaga.

Dari situ, timbul lagi satu keunggulan Mermaid sebagai sebuah film hiburan. Dengan konsep yang sekilas tampak hanya untuk senang-senang, film ini tetap bisa menyatukan unsur komedi, kisah cinta, petualangan, laga, bahkan pesan lingkungan dalam sebuah tontonan yang efektif.
Sejak awal sebenarnya sudah jelas bahwa film ini ingin menyelipkan pesan kelestarian lingkungan, namun bagian itu tak hanya dari kata-kata, melainkan juga dari caranya membangun kepedulian penonton terhadap Shan dan sesama manusia ikan yang hidupnya terancam. Bahwa sekalipun film ini fantasi dan komedi yang kelihatan ringan, unsur tentang tertindasnya tokoh-tokoh ini tidak sertamerta digampangkan.
Menariknya lagi, Mermaid juga tidak serba menggampangkan karakter-karakternya, sekalipun mereka dirancang sebagai karakter yang komikal. Di bagian awal, film ini seperti tidak ingin mengajak penonton segera membela karakter tertentu, terutama antara Liu Xian dan Sha.
Sebab, niat dan perbuatan mereka sama-sama tidak simpatik: Liu Xian yang dengan gampang menerima proyek Teluk Hijau hanya supaya bertambah kaya, sementara Shan menurut saja saat disuruh membunuh orang yang tak dikenalnya. Dalam perjalanannya, ada transisi yang dilakukan dengan mulus terhadap dua karakter ini, sehingga pada akhirnya mereka bisa merebut simpati di saat yang tepat, juga sekaligus bisa memancing tawa.

Memang secara teknis visual, Mermaid masih terlihat sangat kartun, bahkan sepertinya film ini menyiasati keterbatasan efek visual dengan tak banyak menampilkan adegan bawah laut. Tetapi, itu semua masih sejalan dengan corak film ini—sebagaimana sudah di-set sejak adegan pembuka di 'museum' hewan purba, yang absurd dan komikal. Ketika cerita, penataan adegan, dan humornya sudah mampu memaku perhatian, efek visual yang kurang sempurna sebenarnya cukup bisa terabaikan.

Bagi yang sudah kenal Stephen Chow, ekspektasi terhadap film Mermaid mungkin lebih kepada cara apa lagi yang Chow gunakan untuk membuat penonton terpingkal-pingkal. Ekspektasi ini pun terbayar dengan sangat baik di filmnya, dari yang mengharapkan humor slapstick, permainan kata, situasi, hingga humor yang menjurus ke ranah dewasa.
Namun, di balik itu, Mermaid juga menunjukkan keterampilan dalam merancang cerita, menuturkannya, memperkenalkan karakter-karakternya, hingga memainkan emosi dari susunan adegannya, yang mungkin tadinya dikira tak bisa didapat dari film penuh humor absurd seperti ini.
Sumber:Muvila

Eye in the Sky, Cermat Bertutur dari Satu Peristiwa

 Berbagai film bertema perang telah dibuat dengan berbagai sudut pandang, baik dari latar masa lalu atau kontemporer, dari yang menunjukkan proses pertempuran hingga ke dampak-dampaknya. Kemunculan film Eye in the Sky mungkin dianggap sekadar menambah panjang daftar film bertema perang yang sudah ada.
Akan tetapi, film ini ternyata mampu menunjukkan diri sebagai film yang relevan, mencakup banyak sisi, memuat cerita yang kaya, dan digarap dengan kuat. Padahal, kisahnya hanya berkutat pada satu peristiwa yang terjadi dalam rentang hitungan jam.
Eye in the Sky menuturkan upaya pemberantasan teroris dari kelompok bernama Al-Shabaab di Afrika bagian Timur. Intelijen Inggris dan Kenya bekerja sama dalam operasi penangkapan dua warga negara Inggris dan satu warga negara AS yang telah bergabung ke kelompok tersebut, saat ketiganya tiba di Nairobi, ibukota Kenya. Operasi ini melibatkan Inggris, Kenya, dan Amerika Serikat (AS), yang sebagian besar dijalankan dari jarak jauh menggunakan teknologi termutakhir.
Operasi ini dipimpin dari Inggris oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren), disaksikan oleh panglima militer Letnan Jenderal Frank Benson (Alan Rickman), Menteri Pertahanan Brian Woodale (Jeremy Northam), Jaksa Agung George Matherson (Richard McCabe), dan staf relasi benua Afrika Angela Northman (Monica Dolan). Sementara operasi di lapangan melibatkan agen asal Somalia, Jama Farah (Barkhad Abdi), dan pesawat kendali jarak jauh atau drone yang dikendalikan dari Las Vegas, Amerika Serikat oleh pilot Steve Watts (Aaron Paul) dan Carrie Gershon (Phoebe Fox).
Misinya cukup sederhana: pesawat drone akan jadi pengintai untuk mendapatkan konfirmasi identitas ketiga target. Setelah itu, militer Kenya akan meringkus saat ketiganya berada di tengah kota. Akan tetapi, misi jadi berantakan ketika ketiga target dibawa pergi ke kampung pinggiran kota yang dikuasai oleh milisi Al-Shabaab. Di sana, para target disiapkan untuk memakai rompi bom bunuh diri.
Situasi ini membuyarkan rencana penangkapan langsung, karena ditakutkan akan menimbulkan baku tembak terbuka dengan milisi di kampung tersebut, yang artinya juga akan menimbulkan korban jiwa dari warga sipil. Satu-satunya cara paling efektif adalah menembakkan peluru kendali dari pesawat drone, yang berarti mengubah misi penangkapan ini menjadi misi pembunuhan. Namun, pilihan ini justru menimbulkan konsekuensi politik dan moral yang lebih besar.
Plot Eye in the Sky bisa dibilang hanya penjabaran sebuah operasi militer dari awal hingga akhir. Namun, kisahnya menjadi dinamis dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam operasi ini, mulai dari pihak militer, pemerintah, pelaku lapangan, hingga dari sisi warga sipil—diwakili gadis kecil penjual roti bernama Alia (Aisha Takow), dan masing-masing tidak dalam ruangan yang sama. Sutradara kelahiran Afrika Selatan, Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, Ender's Game) berhasil menata porsi dan ritme dari masing-masing bagian sehingga terlihat menyatu sekaligus intens.
Film ini memang minim peluru dan ledakan, karena ceritanya lebih berkonsentrasi pada proses pengambilan keputusan yang butuh pertimbangan berlapis. Ketegangan dari operasi yang tengah berjalan disajikan apik, berpadu dengan kegemasan akan proses keputusan yang harus melewati banyak prosedur, yang seakan semakin menunda keberhasilan operasi ini. Lewat cara itu, film ini tetap menghadirkan nilai entertainmentsekalipun hanya dari pertukaran dialog dan perpindahan lokasi, yang makin menunjukkan keterampilan sutradara serta kecermatan skenario yang disusun Guy Hibbert.
CERMINAN MASA KINI
Peristiwa yang diangkat Eye in the Sky memang fiktif. Akan tetapi, apa yang diangkat berhasil mencerminkan keadaan yang masih terjadi saat ini di berbagai belahan dunia. Kelompok Al-Shabaab menjadi cermin berbagai milisi radikal yang tumbuh subur di negara-negara berdaulat seperti Timur Tengah dan Afrika, dan turut menyeret negara-negara Eropa dan AS. Operasi peringkusan teroris yang dilakukan di film ini juga mencerminkan kerja sama pertahanan antarnegara yang kini dipermudah dengan berbagai macam teknologi, bahwa jarak tak lagi jadi penghalang.
Di saat yang sama, film ini juga menunjukkan dampak politik dan sosial dari perang tersebut, sekalipun dilabeli 'melawan terorisme'. Pihak militer tentu ingin para target ini dihabisi saja, demi mencegah aksi teror yang menyebabkan lebih banyak korban. Tetapi, konsekuensi politik menghalangi itu. Sekalipun bisa diloloskan sebagai pengorbanan untuk hal yang lebih besar, pilihan untuk membombardir sebuah rumah berisi teroris di desa yang banyak dihuni penduduk sipil akan dianggap sebuah sebuah kejahatan kemanusiaan. Alhasil, ketika teknologi semakin mempermudah, kebijaksanaan dalam memanfaatkannya justru semakin berat dijalankan.
Dilema yang dimunculkan pun diperkuat dengan pembangunan karakter-karakternya. Kecuali para target yang mutlak dianggap jahat tanpa dibahas motivasinya, tidak ada pihak yang benar-benar absolut di film ini. Tiap karakter melemparkan argumen-argumen yang berdasar kuat, yang dapat membuat penonton ikut setuju, sekalipun beberapa di antaranya bisa saling bertentangan. Argumen-argumen tidak hanya datang dari pemikiran taktis dan politis, tetapi juga dari hati nurani. Hampir tidak ada karakter yang patut dibenci di film ini karena pilihan yang mereka ambil sama-sama masuk akal.
Segala hal tersebut pada akhirnya dikemas dan disajikan secara berkelas dalam film ini, tanpa jadi terlalu keras atau justru terlalu cengeng. Kecermatan dalam penuturan cerita yang mudah diikuti dan dipahami, didukung dengan akting memikat dari para pemain lintas negara dan tata visual yang engaging, membuat film ini jadi tontonan yang komplet dan padat berisi dalam durasinya yang cukup ringkas, hanya 102 menit. Sebuah thriller yang bisa tampil menghibur sekaligus mengusik pikiran dan hati, serta ikut memperluas wawasan dan memberi penyataan bahwa perang tak pernah sederhana, baik bagi yang terlibat langsung maupun yang hanya terkena imbasnya.
Sumber:Muvila

Surat Cinta untuk Kartini

 Pemikiran dan perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk rakyat pribumi di masa kolonial Belanda menjadi salah satu momentum yang dirayakan di Indonesia. Sosok Kartini kali ini kembali dihidupkan dalam film terbaru produksi MNC Pictures, Surat Cinta untuk Kartini yang digarap Azhar 'Kinoi' Lubis. Namun, film ini bukan serta merta sebuah biografi Kartini, melainkan sebuah kisah fiksi tentang kekaguman seseorang dari kaum jelata terhadap sosok dan perjuangan Kartini.
Kisah Surat Cinta untuk Kartini berpusat pada Sarwadi (Chicco Jerikho), seorang pria yang baru saja pindah ke wilayah Jepara pada tahun 1901 untuk bekerja sebagai pengantar surat. Sarwadi adalah duda yang kini tinggal hanya dengan putri kecilnya, Ningrum (Christabelle Grace Marbun). Kehidupan Sarwadi di lingkungan barunya semakin berwarna setelah ia melihat Kartini (Rania Putrisari), putri dari Bupati Jepara yang sering berkirim surat dengan orang tua angkatnya di Batavia.
Sarwadi tak hanya kagum pada kecantikan Kartini, tetapi juga dengan apa yang diperjuangkannya, yaitu mencerdaskan kaum pribumi, khususnya perempuan. Saat Kartini berniat membuka sekolah rakyat, Sarwadi menyambutnya dengan semangat dan mendorong Ningrum untuk jadi murid pertama Kartini. Tak berapa lama, langkah Sarwadi dan Ningrum diikuti oleh anak-anak lainnya.
Seiring waktu, Sarwadi tak dapat menyembunyikan bahwa ia jatuh cinta pada Kartini. Sarwadi terus memelihara rasa itu, sekalipun sahabatnya, Mujur (Ence Bagus) selalu mengingatkan bahwa mengharap balasan cinta dari seorang ningrat adalah sia-sia. Sarwadi pun hancur hati ketika Kartini dilamar oleh seorang pejabat. Sarwadi tak rela Kartini akan pergi dan menghentikan perjuangan yang telah dirintis, sekaligus membuatnya kehilangan sang sosok pujaan.
Surat Cinta untuk Kartini bukanlah film pertama yang mengangkat sosok Kartini ke layar lebar. Pihak pembuat film pun mengaku sengaja mengambil sudut pandang berbeda, agar sejarah perjuangan Kartini bisa mudah dinikmati oleh penonton masa sekarang. Pilihannya pun jatuh pada sebuah kisah fiksi yang bersinggungan dengan sosok Kartini.
"Berawal di tahun 2013, di awalnya kita bilang, 'Yuk, kita mau bercerita sejarah, kayaknya orang-orang zaman sekarang kurang tahu pahlawan-pahlawan kita dulu," ungkap eksekutif produser Affandi Abdul Rahman dalam konferensi persnya di Jakarta, pekan lalu.
"Kemudian kita temukan, bagaimana jika kita ceritakan dari kacamata ketiga, yaitu tukang pos? Berawal dari sana, kemudian berkembang lagi sampai akhirnya dibentuk menjadi suatu cerita yang tidak hanya sekadar inspiratif, tetapi bisa menghibur penonton," lanjut Affandi.
Sutradara Azhar 'Kinoi' Lubis juga menyampaikan proses yang cukup panjang dalam menginterpretasikan karakter dan suasana di masa lampau. Tim produksi pun melakukan pengumpulan dokumen sejarah semi mendapat gambaran kehidupan di masa Kartini, baik yang didapat di Indonesia maupun sampai ke negeri Belanda. Selain itu, Kinoi juga memberi perhatian tentang bagaimana sosok Kartini akan digambarkan di film ini, khususnya dari sudut pandang Sarwadi yang mewakili rakyat jelata.
"Bagaimana ada seorang sosok wanita ningrat, yang cantik, baik, cerdas, punya prinsip kuat, independen, tetapi dia tidak seperti ningrat lainnya. Dia sangat sederhana, bisa menyatu dengan rakyatnya tanpa ada perbedaan. Ini yang saya coba, bagaimana tukang pos melihat sosok wanita seperti itu. Kalau saya sih kembali lagi, pahlawan pun manusia biasa, kitalah yang menjadikan mereka pahlawan, mereka pasti manusia biasa yang ada salah dan benar," ungkap Kinoi.
Film Surat Cinta untuk Kartini mulai tayang di bioskop nasional bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April 2016. Film ini juga turut menampilkan akting dari Donny Damara, Ayu Diah Pasha, Keke Soeryokusumo, Melayu Nicole Hall, dan Acha Septriasa. Simak trailer-nya di bawah ini.
Sumber:Muvila

Serangan Moster Di film Help Efek Video 360

Seiring perkembangan teknologi, cara menikmati film pun terus berkembang. Salah satunya yang sedang ramai dibicarakan adalah video 360. Video ini memberikan kebebasan kepada penonton untuk menentukan sudut pandang yang mereka inginkan.
Raksasa teknologi Google juga mengembangkannya melalui Google Spotlight Stories. Salah satu produk live-action pertamanya adalah film pendek berjudul Help.
Help merupakan film pendek yang menggambarkan kekacauan di tengah kota Los Angeles yang disebabkan oleh monster misterius. Ia muncul dari runtuhan meteor yang menghujani kota tersebut.
Pihak kepolisian berusaha melumpuhkan monster misterius tersebut, tetapi apa yang dilakukan polisi malah membuat keadan semakin buruk. Monster yang awalnya hanya sebesar anjing dewasa itu ternyata bisa melipatgandakan ukuran tubuhnya secara instan. Setiap kena tembakan atau benturan, ukurannya akan menjadi dua kali lipat dari ukuran awalnya.
Monster itu lalu mengejar seorang perempuan yang kedapatan mengambil sebuah bongkahan mirip batu yang ada di tempat jatuhnya meteor. Apakah sebenarnya benda mirip batu tersebut? Bagaimana monster misterius ini akhirnya bisa dilumpuhkan?
Film pendek Help disutradarai Justin Lin, sutradara Fast & Furious 6, Fast Five, dan Fast & FuriousHelp dibintangi dua artis, yaitu Lauren Elise (Killer Camera Monsters) sebagai perempuan yang dikejar-kejar monster dan Sung Kang (Fast & Furious 6, Fast Five) sebagau polisi.
Sumber:Muvila

Thursday, April 21, 2016

Target Raup 10 Juta Penonton"Film ‘Rudy Habibie’ "

 
Film ‘Rudy Habibie’ (Habibie dan Ainun 2, red), film yang mengisahkan masa muda BJ Habibie ditargetkan mampu meraup jumlah penonton hingga 10 juta orang.
CEO MD Entertainment, Manoj Punjabi selaku produser film ‘Rudy Habibie’ di Jakarta, Rabu (20/04) menyatakan, keyakinannya jumlah penonton tersebut dapat tercapai mengingat film sebelumnya, yakni ‘Habibie dan Ainun’ mampu mendatangkan tak kurang 4,7 juta penonton.
“Itu merupakan jumlah penonton film nasional terbanyak semenjak tahun 2000-an, bahkan mengungguli ‘Titanic’ yang hanya ditonton 3,5 juta orang di Indonesia,” katanya.
Selain kesuksesan film sebelumnya, tokoh utama dalam ‘Rudy Habbie’ (Habibie dan Ainun2 ), yakni BJ Habibie merupakan sosok yang telah me-nasional dengan segudang prestasi dan keteladanan.
Film yang mengisahkan masa muda sang visioner Rudy Habibie sebelum dikenal sebagai teknokrat dan Presiden ke-3 Republik Indonesia Ke-3, BJ Habibie masih dibintangi aktor Reza Rahadian dengan sutradara Hanung Bramantyo.
Dikisahkan Rudy sangat ingin membuat pesawat untuk memenuhi pesan almarhum Papinya agar ‘menjadi mata air’, menjadi berguna untuk orang banyak.
Hal itu membuat keluarganya mesti berkorban karena dia harus kuliah di RWTH Aachen, Jerman Barat. Di sana Rudy hidup dalam kondisi terbatas, rasa rindu rumah dan belajar soal arti persahabatan, cinta, juga pengkhianatan. Di negeri itu dia bersama para mahasiswa Indonesia yang baru dikenalnya di sana.
Menurut Manoj, rencananya film yang diangkat dari novel inspiratif “Rudy Habibie” tersebut akan ditayangkan di bioskop Tanah Air pada saat lebaran 2016 atau bersamaan dengan ulang tahun ke-80 pria kelahiran Pare-pare Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936 itu.
Rudy merupakan panggilan akrab mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi di masa Orde Baru yang memiliki nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie saat masih muda.
Selain Reza Rahadian, sejumlah aktor dan aktris lain yang turut membintangi film ini, yakni Chelsea Islan, Ernest Prakasa, Dian Nitami, Indah Permatasari dan Panji Pragiwaksono.
Sumber:Aktual

Saturday, April 16, 2016

10 Cloverfield Lane

10 Cloverfield Lane adalah contoh film yang sulit diulas tanpa menyentuh ranah spoiler, dan itu karena film ini menjadikan unsur misteri sebagai penggerak ceritanya. Sejak awal hingga akhir, penonton diajak untuk bertanya-tanya, dan itulah yang ingin dijadikan daya tarik utama film ini. Dalihnya adalah semakin tidak tahu detail film ini, maka—mudah-mudahan—akan semakin menikmati jalannya cerita.
Yang mungkin bisa disampaikan secara terang-terangan adalah set-up ceritanya. Michelle (Mary Elizabeth Winstead) meninggalkan kota tempat tinggalnya dengan mengendarai mobilnya sendiri. Di kegelapan jalan pedesaan, Michelle alami kecelakaan hingga tak sadarkan diri. Saat sadar, Michelle sudah berada di sebuah bungker berbentuk rumah tinggal di bawah tanah milik pria paruh baya bernama Howard (John Goodman), dan turut dihuni pemuda lokal bernama Emmett (John Gallagher Jr.).
Michelle tentu panik dan ingin segera mengabari kerabatnya. Namun, Howard meyakinkannya bahwa mereka bertiga tidak bisa keluar dari bungker, karena telah terjadi penyerangan yang menewaskan banyak orang layaknya kiamat di luar sana. Masalahnya, apakah Howard dan Emmett bisa dipercaya, ataukah mereka punya maksud lain terhadap Michelle?
Nyatanya, 10 Cloverfield Lane adalah sebuah film yang dibuat dengan terampil. Unsur misteri yang dijadikan andalan tetap bekerja dengan baik sekalipun penonton mungkin sudah punya bekal pengetahuan tentang apa sebenarnya yang ingin diceritakan film ini. Pasalnya, semisterius apa pun film ini, bagi yang pernah menonton atau rajin mencari informasi tentang film, maka film yang diproduseri J.J. Abrams ini pasti akan langsung dikaitkan dengan film Cloverfield (2008), yang sudah ada lebih dulu.
Film Cloverfield yang digarap Matt Reeves ditampilkan dengan gaya found footage, seolah-olah direkam oleh karakter yang ada dalam ceritanya, tentang sekelompok muda-mudi yang berusaha mencari selamat dari serangan monster raksasa di kota besar. Film tersebut bukan hanya mengangkat gaya tampilan yang cukup segar—walaupun memusingkan karena posisi kamera tak stabil, tetapi juga sudut pandang cerita yang berbeda, yaitu dari para korban sipil dalam skop kecil yang tak biasanya disorot di film-film tema sejenis.
Pembuat 10 Cloverfield Lane sendiri tidak mau disebut sebagai sekuel atau spin-off dariCloverfield, demikian pula presentasinya tak lagi dengan gaya found footage. Film debut sutradara Dan Trachtenberg ini hanya disebut sebagai "saudara" dari Cloverfield. Lagi-lagi, para pembuat film ini seperti ingin melemparkan sebuah misteri kepada calon penontonnya: jika 10 Cloverfield Lane bukan lanjutan dan tak berkaitan dengan filmCloverfield, pasti tetap ada persamaan yang ingin dikedepankan. Persamaannya di mana? Itu pula yang digunakan untuk mendorong penontonnya untuk mengikuti cerita ini hingga akhir.
Akan tetapi, yang mungkin bisa dibahas sekarang adalah persamaan dari skop ceritanya. Baik Cloverfield maupun 10 Cloverfield Lane sama-sama menyorot segelintir karakter awam di tengah sebuah situasi yang besar, dalam hal ini bencana. Pada akhirnya, kedua film tidak bertumpu pada cara mengatasi bencana—yang biasa dilakukan tokoh-tokoh militer atau ilmuwan dalam film-film bencana lain, tetapi lebih ke upaya orang-orang biasa ini untuk bisa survive.
Dalam 10 Cloverfield Lane, skop cerita yang kecil itu kemudian diolah dengan apik di sisi hubungan antarkarakternya, yang masing-masing karakternya juga dibangun dengan mulus dalam waktu yang terbilang singkat. Ancaman tidak hanya dari bencana yang konon ada di luar bungker, tetapi juga dari karakter-karakter mencurigakan di dalam bunker. Penonton diposisikan pada sudut pandang Michelle yang tidak tahu apa-apa, namun saat semakin tahu, perasaan terancam juga semakin kuat.
Bagaimana film ini mampu mengelem sisi psikologis Michelle dengan penonton adalah salah satu keunggulan utama. Keunggulan itu membuat film ini tampil mencekam sekaligus menghibur, padahal situasi dan lokasinya hanya di situ-situ saja, pun film ini tidak terlalu penuh sesak dengan dialog. Memang pada beberapa bagian film ini terasa stagnan, tetapi cukup terbayar oleh rentetan kejadian tak terduga selanjutnya, yang diolah dengan baik oleh Tratchtenberg dan tim penulis skenario Josh Campbell, Matthew Stuecken, dan Damien Chazelle, didukung pula oleh permainan kuat dari ketiga tokoh utamanya.
Pada akhirnya, 10 Cloverfield Lane bukan soal bagaimana calon penonton sebisa mungkin tidak terkena spoiler sebelum menonton. Film ini lebih menunjukkan sebuah keterampilan menyajikan cerita dalam keterbatasan ruang dan jumlah karakter, lalu membungkusnya dalam sebuah tontonan yang thrilling, seru, sesekali lucu, tampak sederhana, tetapi tak kalah gempita dengan film-film berbiaya raksasa.
Sumber:Muvila

Raih Cinta dan Lawan Penindasan

 Meramaikan ragam film yang ditujukan untuk penonton remaja, rumah produksi Magma Entertainment mempersembahkan film Juara. Film ini menandai debut personel SM*SH, Bisma Karisma sebagai pemeran utama di film layar lebar, sekaligus menjabat ko-produser dan pengisi soundtrack-nya. Tak hanya menampilkan kisah seputar cinta dan keluarga, film arahan Charles Gozali ini juga memasukkan unsur laga, sesuatu yang terbilang jarang untuk film dengan target remaja.
Bisma (Bisma Karisma) adalah seorang pemuda sederhana yang dibesarkan oleh Sarah (Cut Mini Theo), ibunya yang membuka usaha kedai bakmi. Meski tak mempunyai sosok ayah, Bisma tumbuh menjadi pemuda ceria dan optimis, yang cukup membantunya dalam masa orientasi di kampus barunya. Bahkan, di hari pertama ia di kampus, ia berani terang-terangan menunjukkan rasa suka pada Bella (Anjani Dina), mahasiswi seniornya. Tetapi, tingkah Bisma memancing kemarahan kekasih Bella, Attar (Ciccio Manassero) dan teman-temannya, yang tak ragu menyerang Bisma dengan kekerasan. 
Melewati masa-masa itu, Bisma sering mendapat masukan dari sesosok pria pelanggan kedai (Tora Sudiro), yang mengajaknya untuk pantang menyerah. Bisma pun terdorong untuk belajar bela diri, hanya saja Sarah selalu melarang keras niat putra satu-satunya itu. Semakin hari Bisma berusaha mendekati Bella, semakin kejam pula ganjaran yang didapatnya dari Attar, yang ternyata juga terkait dengan mafia pimpinan Kobar (Cecep Arif Rahman). Lalu, bagaimana Bisma dapat mendapat cinta Bella sekaligus melindungi dirinya sendiri?
Proyek film Juara disebutkan dimulai sejak Maret 2015 oleh Magma Entertainment, berdasarkan inisiatif dari Bisma yang memang bercita-cita ingin membuat film. Proses pengembangan ceritanya terbilang tidak singkat, terutama dalam menentukan cerita apa yang paling cocok untuk mengakomodasi keinginan kedua belah pihak. Akhirnya, disepakati bahwa film ini tidak akan membahas kisah hidup Bisma sebagai seorang penyanyi dan penari, sebagaimana selama ini ia dikenal.
"Kalau kita membuat film yang menceritakan sukses Bisma jadi penyanyi, ikut lomba atau apa, mungkin itu sudah biasa. Bisma yang kemudian hadir di film Juara adalah Bisma yang belum pernah dilihat oleh fans maupun penonton film Indonesia," jelas Charles Gozali kepada Muvila beberapa waktu lalu di Jakarta.
"Yang kemudian harus kita angkat adalah salah satunya kelebihan Bisma, yaitu olah tubuh. Dia jago break dance, sehingga saat kita bilang, 'Oke, film apa yang bisa kita bikin yang memanfaatkan kelebihan Bisma?.' Kemudian action jadi salah satu pilihan. Karena itu film Juara jadi sebuah film action remaja yang sangat pop," tambah Charles lagi.
Film yang memulai syuting pada akhir tahun 2015 ini menggunakan skenario garapan Charles bersama Hilman Hariwijaya. Charles menjelaskan bahwa film Juara memasukkan beberapa unsur yang dekat dengan realita kaum remaja, salah satunya perisakan ataubullying secara fisik. Meski demikian, Charles juga menyatakan tak ingin filmnya menjadi terlalu berat dan keras, mengingat target penontonnya adalah remaja. Untuk itulah, ia juga menonjolkan unsur drama serta humor di samping unsur laganya.
"Itu sebetulnya memang cara yang kita lakukan supaya filmnya tidak terlalu keras, tidak terlalu sadis. Tidak bisa tidak ada darah, karena nanti nggak real, tapi kita berusaha mengurangi darah seminim mungkin. Dan kemudian message yang diterima setelah filmnya selesai ditonton, kami berharap yang dibawa pulang justru anti-bullying. Kita memperlihatkan bahwa orang di-bully itu bukan cuma fisik yang kena, tetapi mental dan psikis orang juga akan sangat terganggu. Jadi, ini film action tapi kita mencintai damai," ucap Charles.
Film Juara juga didukung oleh penampilan Mo Sidik, Qausar Harta Yudana, Aurelia Devinov, Ronny P. Tjandra, Arthur Stefano, dan Dicky Difie. Film ini tayang di bioskop nasional mulai 14 April ini. Trailer-nya bisa disaksikan di bawah ini.

Film

Hiburan

Celeb

 
Copyright © 2014 Berita Online 24